Seragam SD, Pasar yang Potensial

Seragam SD,
Pasar yang Potensial
Written by susanna sunarno
Friday, 20 June 2008

Anak-anak di pulau Sumbawa ini nampak optimis menyusuri jalan kehidupan, apalagi dengan seragam sekolahnya yang menunjukkan semangat kebersamaan dan tekad bulat menuntut ilmu walau harus melalui jalan nan panjang. Pemakaian seragam sekolah hampir merata ke seluruh penjuru Nusantara dan itu adalah potensi bagi sektor pertekstilan. Bayangkan saja jumlah siswa SD se-Indonesia yang mencapai 172.272, yang mengayomi 26.852.059 murid SD. Di situasi ekonomi seperti sekarang ini, pasar seragam banyak dilirik oleh pengusaha tekstil dan garment menengah kecil sebagai sasaran pemasaran produk mereka.
Seragam sekolah punya potensi ekonomi yang tinggi tapi sekaligus menghadapi kendala dari sisi regulasi, baik dari pemerintah maupun pemimpin sekolahnya. Setidaknya inilah yang dirasakan oleh para anggota API daerah Klaten. Potensi yang bisa digali dari seragam SD adalah karena variabel karakternya. Dari segi kualitas, setiap sekolah punya standar kualitas dan desain gaya yang berbeda sehingga harga seragam dari ekonomis hingga yang istimewa. Keragaman ini menyebabkan seragam sekolah bisa digarap oleh pelaku garmen yang berbeda-beda.
Seorang anak SD kini juga bisa menggunakan 4 stel pakaian sekolah, yaitu: seragam nasional, pramuka, olah raga dan yayasan/batik. Sayangnya potensi pengembangan usaha seringkali tertutup oleh monopoli pihak tertentu. Tender baju seragam sekolah yang tidak terbuka telah merugikan pelaku usaha garmen karena kompetisi yang tidak sehat. Selain itu orang tua murid juga terkena dampaknya karena harus membayar seragam lebih mahal daripada harga pasaran sebenarnya.
Untuk menuju kompetisi yang lebih sehat, Ketua API daerah Klaten, Herawati W, mengusulkan agar dibentuk semacam Badan Penyangga bagi pakaian seragam. Karena hal ini menuntut kekompakan dan koordinasi diantara departemen-departemen terkait, maka adalah penting bagi beberapa menteri untuk bekerjasama, seperti Mendiknas, Menperindagkop, Menaker, Menteri pemberdayaan Perempuan, Menteri Perekonomian, Menkeu, dan Mensos. Program seragam bisa lebih terintegrasi dan sistematis, sehingga anggaran di lapangan juga lebih efisien. Jika koordinasi antar departemen bisa dibangun, tentu saja tidak hanya seragam SD yang bisa dikaryakan, namun juga program-program masyarakat lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Bina Pasar dan Distribusi-Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Gunaryo SH, mengakui belum terjalinnya kerjasama yang solid antara departmen pemerintahan. Namun langkah perbaikan tetap diupayakan. Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Benny Soetrisno mengusulkan upaya pengawasan dari masyarakat terhadap monopoli yang tidak sehat. Jika para orang tua murid memprotes harga paket seragam sekolah yang tidak wajar di tahun ajaran baru, maka hal ini akan membuka peluang bagi tender usaha yang lebih sehat.
Lebih lanjut tentang pembuatan seragam, konsep Satu Desa Satu Produk bisa menjadi ide yang mendukung pengembangan industri tekstil. Karena dengan adanya spesialisasinya pada masing masing daerah akan membentuk daerah sentra tekstil, yang memudahkan para pembeli untuk bisa datang dan melakukan pembelian langsung. Konsep inti plasma juga bisa lebih menyerap banyak tenaga kerja. Tentu, ide dan niat baik saja tidaklah cukup. Gagasan ini harus mendapat dukungan dari pemerintah pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah, sebagai pembuat kebijakan.
Last Updated ( Friday, 20 June 2008 )

One thought on “Seragam SD, Pasar yang Potensial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s