Amankan Pasar Indonesia

AMANKAN PASAR DALAM NEGERI
Written by susanna sunarno
“Pemerintah bersama pelaku usaha harus mengamankan potensi Pasar Dalam Negeri”

Seperti kata pepatah ‘Gajah dipelupuk mata’ memang sering kali tak mudah terlihat dibanding ‘semut diseberang lautan.’ Orientasi eksport tekstil dan produk tekstil (TPT) sering kali menjadi target utama, melupakan potensi dalam negeri.

Produk-produk tekstil Indonesia sangat potensial, tak hanya untuk pasar luar negeri namun juga di dalam negeri. Data menunjukkan bahwa produk TPT (tekstil dan produk tekstil) bangkit kembali di tahun 2005 dan terus naik di tahun 2008. Peningkatan konsumsi produk TPT juga diprediksi masih terus terjadi di tahun-tahun mendatang. Hal ini seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yakni 2.3% per tahun dan percepatan perubahan trend fashion. Sehinnga pada tahun 2010 total populasi penduduk Indonesia diperkirakan berjumlah 240 juta jiwa dengan konsumsi per kapita 4.5 kg dan permintaan pasar domestic sebesar 1.08 juta ton.

Pada saat permintaan global dan ekspor menurun, sangat penting utnuk memacu konsumsi dan permintaan domestic. Sayangnya, saat ini pasar domestic justru dibanjiri oleh produk-produk TPT impor. Oleh sebab itu Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengusulkan agar pemerintah memberi peran dalam hal:

1.Penggunaan produk tekstil dalan negeri, dimulai dengan pakaian seragam yang ditargetkan dapat menguasai 60% pangsa pasar domestik.
2.Pemerintah melakukan operasi pasar secara berkala kepada pedagang yang menjual produk-produk TPT impor dimulai dengan retailer. (lihat tabel skema operasi pasar)
3.Melindungi pasar domestik dengan melaksanakan aturan yang sudah disepakati WTO, misalnya dengan safeguard, atau tarif bea masuknya dinaikkan sebesar 10% untuk produk kain dan pakaian jadi.
4.Penanggulangan hukum terhadap pelanggaran impor ilegal. API membantu dalam hal penyampaian data atau informasi, POLRI dan Bea Cukai melakukan penyidikan, Jaksa membuktikan dan pengadilan memutuskan. Kerjasama antara API, POLRI, Bea Cukai, Jaksa dan Pengadilan harus dilakukan secara optimal dengan target penanganan kasus dinilai secara per kwartal atau per semester.
Selaku Ketua Umum API, Benny Soetrisno menegaskan bahwa keberhasilan perdagangan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekspor. Bagi perekonomian bangsa Indonesia, netto perdagangan menjadi lebih penting karena dapat secara nyata berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka pengangguran. Maka memberikan iklim dagang yang fair di pasar domestik serta memberikan kemudahan impor barang modal harus menjadi agenda yang wajib diperhatikan.

Last Updated ( Wednesday, 25 June 2008 )
produk TPT hingga 2010

Advertisements

MAKNA DIBALIK SEHELAI KAIN

MAKNA DIBALIK SEHELAI KAIN
 written and photos by: Susanna Sunarno
Monday, 16 June 2008
 Sehelai kain bisa menorehkan sejarah tentang bagaimana sebuah peradaban, adat istiadat dibentuk. Lihat saja koleksi-koleksi kain yang terpampang di Erasmus Huis Jakarta. Umbul-umbul ini misalnya, sering digunakan sebagai alat dalam suatu upacara adat untuk menolak bala dari bahaya. Selain itu, kain berhiaskan kaligrafi arab ini juga dipakai sebagai bendera dalam pertempuran pada masa Syiar Islam di Cirebon, Jawa Barat. Umbul-umbul ini adalah koleksi Museum Tekstil Jakarta.
 Pakaian dan asesorisnya bisa menggambarkan jabatan dan tugas seseorang. Tilik saja  koleksi memorabilia Van Den Bosch, sumbangan dari Museum Rotterdam Belanda.Atau lukisan Gubernur Genderal Mr.P.Mijler yang bertugas di tahun 1866-1872, dilukis oleh sang maestro lukis Indonesia, Raden Saleh.  

Benda-benda tersebut, juga beberapa koleksi menarik lainnya, turut memeriahkan momen ulang tahun kota Jakarta. Anda bisa menyaksikan koleksi tersebut yang dikemas dalam tema ‘Peninggalan Terpendam di Museum-Museum Propinsi DKI Jakarta’, di Erasmus Huis Jakarta pada tanggal 14 Juni hingga 24 Juli 2008.

Fauzi Bowo, selaku Gubernur DKI Jakarta, dalam sambutannya mengatakan bahwa pameran museum yang bekerja sama dengan Kedutaan Belanda ini tak hanya mempromosikan sejarah nusantara namun juga bertujuan mensuskseskan program ‘Visit Indonesia’.

Pameran tersebut adalah salah satu dari rangkaian kerjasama (2006 -2009) dari Dinas Kubudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Museum Tropen di Amsterdam, Rotterdam City dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Pameran memperlihatkan kekeayaan tersembunyi yang dimiliki oleh museum-museum di Jakarta.

Memang peninggalan yang lama terpendam, seperti kain atau pakaian, sebenarnya telah menjadi saksi terhadap perjalanan panjang sejarah pada tiap-tiap daerah dan negara. Dengan meluangkan waktu sejenak, mungkin kita bisa lebih memberi apresiasi pada para leluhur bangsa Indonesia sehingga memberi semangat untuk meneruskan estafet perjuangan.

Last Updated ( Monday, 16 June 2008 )

Rainy days in Jakarta

Rainy day in Jakarta….

Written by: Susanna Sunaro

Rain makes us move slower than people used to when it’s shiny day.  Sometimes, rain even stops us from working, from moving, from meeting people.

It happened to me in this January.  I rushed in with my motorbike to a friendship meeting in Semanggi. Then, suddenly it rained hard on me…  I was totally wet though I wore my jacket, so I stopped in one corner of an intersection in Mampang, South Jakarta. It was dark, but I noticed there were some men stood under a plastic cover placed between two trees. Suprisingly, they welcomed my presence and even offered me a seat in a wooden rack they made. I sat down,  feeling cold and surprise of the sudden rain. The words “man may hope but God decide” is truly correct for me, for there is nothing I could do but sit still. Pause. Yeah, pause. People sometimes forget that they need to pause ones in a while, and it’s OK to pause.  

The rain had successfully force me to pause, to stop my activity and think about people, about our being, about the weather, about earth.

“Mari makan,mbak..” an ojek driver sat next to me politely greet me for he’s going to have his dinner.

“Mari… (please do..)” I replied. But, a second thought, hey, that’s a great idea. Eat! Since, I cannot do anything else… and the smell of food was temping, the cold, the hunger….

“What’s that on your plate?” I asked.

“Oh, it’s a fried tauge.” He said.

“Bang!” I called the Fried Tauge seller who happened to wait for the rain in the corner of the building.

“I want one, please.”

Only  a moment and there came the Toge goreng (fried Tauge). It was so delicious.. . I was pleased because I was full, it was cheap only Rp 5000, and because the toge goreng made a good company for me. So, in my pause, I taught of us as people… that together we must take care of our planet. Though rain is good, but they can be pretty crazy sometimes with all the nasty wind and all. Secondly, I could sense better. I tasted the smell of the earth, the ground, the water. I felt the cold water fell on me. I tasted nice ‘street dinner’ with the ojek driver. And I was truly happy to meet nice and helpful ojek drivers, who was not just greet me but they gave a seat and shelter, moreover also because they willingly and genuinely helped me took care of my motor bike to a more proper and save place on the street. I thank God I still able to sense this in Jakarta.

*) Ojek: is a ‘taxi’ motor bike

Makan: eat

Mbak: elder sister/ a polite call for female lady

Seragam SD, Pasar yang Potensial

Seragam SD,
Pasar yang Potensial
Written by susanna sunarno
Friday, 20 June 2008

Anak-anak di pulau Sumbawa ini nampak optimis menyusuri jalan kehidupan, apalagi dengan seragam sekolahnya yang menunjukkan semangat kebersamaan dan tekad bulat menuntut ilmu walau harus melalui jalan nan panjang. Pemakaian seragam sekolah hampir merata ke seluruh penjuru Nusantara dan itu adalah potensi bagi sektor pertekstilan. Bayangkan saja jumlah siswa SD se-Indonesia yang mencapai 172.272, yang mengayomi 26.852.059 murid SD. Di situasi ekonomi seperti sekarang ini, pasar seragam banyak dilirik oleh pengusaha tekstil dan garment menengah kecil sebagai sasaran pemasaran produk mereka.
Seragam sekolah punya potensi ekonomi yang tinggi tapi sekaligus menghadapi kendala dari sisi regulasi, baik dari pemerintah maupun pemimpin sekolahnya. Setidaknya inilah yang dirasakan oleh para anggota API daerah Klaten. Potensi yang bisa digali dari seragam SD adalah karena variabel karakternya. Dari segi kualitas, setiap sekolah punya standar kualitas dan desain gaya yang berbeda sehingga harga seragam dari ekonomis hingga yang istimewa. Keragaman ini menyebabkan seragam sekolah bisa digarap oleh pelaku garmen yang berbeda-beda.
Seorang anak SD kini juga bisa menggunakan 4 stel pakaian sekolah, yaitu: seragam nasional, pramuka, olah raga dan yayasan/batik. Sayangnya potensi pengembangan usaha seringkali tertutup oleh monopoli pihak tertentu. Tender baju seragam sekolah yang tidak terbuka telah merugikan pelaku usaha garmen karena kompetisi yang tidak sehat. Selain itu orang tua murid juga terkena dampaknya karena harus membayar seragam lebih mahal daripada harga pasaran sebenarnya.
Untuk menuju kompetisi yang lebih sehat, Ketua API daerah Klaten, Herawati W, mengusulkan agar dibentuk semacam Badan Penyangga bagi pakaian seragam. Karena hal ini menuntut kekompakan dan koordinasi diantara departemen-departemen terkait, maka adalah penting bagi beberapa menteri untuk bekerjasama, seperti Mendiknas, Menperindagkop, Menaker, Menteri pemberdayaan Perempuan, Menteri Perekonomian, Menkeu, dan Mensos. Program seragam bisa lebih terintegrasi dan sistematis, sehingga anggaran di lapangan juga lebih efisien. Jika koordinasi antar departemen bisa dibangun, tentu saja tidak hanya seragam SD yang bisa dikaryakan, namun juga program-program masyarakat lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Bina Pasar dan Distribusi-Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Gunaryo SH, mengakui belum terjalinnya kerjasama yang solid antara departmen pemerintahan. Namun langkah perbaikan tetap diupayakan. Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Benny Soetrisno mengusulkan upaya pengawasan dari masyarakat terhadap monopoli yang tidak sehat. Jika para orang tua murid memprotes harga paket seragam sekolah yang tidak wajar di tahun ajaran baru, maka hal ini akan membuka peluang bagi tender usaha yang lebih sehat.
Lebih lanjut tentang pembuatan seragam, konsep Satu Desa Satu Produk bisa menjadi ide yang mendukung pengembangan industri tekstil. Karena dengan adanya spesialisasinya pada masing masing daerah akan membentuk daerah sentra tekstil, yang memudahkan para pembeli untuk bisa datang dan melakukan pembelian langsung. Konsep inti plasma juga bisa lebih menyerap banyak tenaga kerja. Tentu, ide dan niat baik saja tidaklah cukup. Gagasan ini harus mendapat dukungan dari pemerintah pusat bersama-sama dengan pemerintah daerah, sebagai pembuat kebijakan.
Last Updated ( Friday, 20 June 2008 )